Senin, 14 November 2011

Bagaimanakah asal mula dan tradisi pindapatta?

Pada tahun ketiga, Sang Buddha kembali ke Kapilavatthu atas undangan dari Raja Suddhodana. Beliau beserta rombongan yang berjumlah dua puluh ribu bhikkhu berangkat dari Rajagaha menuju Kapilavatthu. 

            Sang Buddha beserta rombongan tiba di Kapilavatthu dan berdiam di Nigrodarama. Raja Suddhodana dan penduduk berduyun-duyun menemui Sang Buddha. Karena mengetahui bahwa para orang tua suku Sakya memiliki watak yang sombong, Sang Buddha menunjukkan keajaiban ganda (yamakapatihariya) kepada mereka. Api menyala di bagian atas tubuh Beliau dan air memancar dari tubuh bagian bawah dan sebaliknya. Setelah orang-orang suku Sakya dapat diyakinkan bahwa Sang Buddha telah mencapai ke-Buddha-an, kemudian Beliau duduk dengan tenang di tempat yang telah disediakan. 



           
Raja Suddhodana menanyakan kabar Sang Buddha dan mengajukan beberapa pertanyaan lainnya kepada Beliau. Di akhir tanya-jawab Raja Suddhodana berhasil memperoleh mata Dhamma dan menjadi seorang Sotapanna. Berhubung tidak mendapat undangan makan di istana, maka keesokan harinya Sang Buddha berserta rombongan memasuki kota Kapilavatthu untuk berpindapata. Penduduk kota menjadi gempar. Memang mereka sering melihat seorang petapa atau brahmana berpindapata, tetapi baru sekarang mereka menyaksikan seorang berkasta Khattiya, putra dari seorang raja, berpindapata. Berita ini sampai ke telinga Raja Suddhodana, dan raja segera menemui Sang Buddha dan menegur Beliau. "Mengapakah anakku melakukan perbuatan yang sangat memalukan ini? Mengapakah anakku tidak datang saja ke istana untuk mengambil makanan? Apakah pantas seorang putra raja meminta-minta makanan di kota, tempat ia dulu sering berjalan-jalan dengan kereta emas? Mengapa anakku membuat malu ayahnya seperti ini?" 


"Aku tidak membuat ayah malu, Oh Baginda. Hal ini memang sudah menjadi kebiasaan kita," jawab Sang Buddha dengan tenang. "Apa, kebiasaan kita? Bagaimana mungkin! Tidak pernah seorang anggota keluarga kita minta-minta makanan seperti ini. Dan anakku mengatakan bahwa ini sudah menjadi kebiasaan kita?" 


"Oh, baginda, ini memang bukan merupakan kebiasaan seorang anggota keluarga kerajaan, tetapi ini adalah kebiasaan para Buddha. Semua Buddha di jaman dahulu hidup dengan jalan mengumpulkan dana makanan dari para penduduk." 


Setelah Raja Suddhodana tetap mendesak agar Sang Buddha beserta rombongan mengambil makanan di istana, maka berangkatlah Sang Buddha berserta rombongan ke sana. 

Happy Kathina All~ :)
Be happy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar